Review Novel Maryam – Okky Madasari

Review Novel Maryam - Okky Madasari

LantangRiau – Kali ini saya akan memberikan review secara pribadi tentang novel maryam yang ditulis oleh okky madasari.

Apabila memang kamu lebih suka membaca review terlebih dahulu sebelum membaca novelnya. Maka disarankan untuk membaca review yang saya tulis sebelumnya : Review Novel Real Men Will – Pria Sejati Oleh Victoria Dahl.

Informasi Novel Maryam – Okky Madasari

Informasi Novel Maryam - Okky Madasari
Informasi Novel Maryam – Okky Madasari

Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Ukuran: 20 cm
Tebal: 280 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8009-8
EISBN: 978-602-06-1110-5

Blurb Maryam

Untuk mereka yang terusir karena iman adalah sebuah kisah manusia dengan keyakinan yang dipertanyakan, dituduhkan, hingga disingkirkan. Maryam Hayati barangkali bisa disebut pemudi yang tengah mencari jati diri. Pada awalnya, ia merantau hanya untuk menimba ilmu, berlanjut bekerja sekaligus mencari tambatan hati. Namun, keyakinannya sebagai seorang Ahmadi kerap kali menjadi hambatan tersendiri. Ahmadi dipandang sesat dan pantas dibinasakan.

Beberapa kali Maryam gagal menjalin hubungan romansa meski telah menyembunyikan jati dirinya sebagai Ahmadi. Maryam memutuskan untuk meninggalkan Lombok kampung halamannya, menanggalkan keyakinan. Hingga hatinya kembali menyerahkan cinta pada lelaki bernama Alam. Mereka menikah dengan Maryam yang mengucap syahadat seolah ia bukanlah muslim sebelumnya. Sayangnya, rumah tangga Maryam tak semanis harapan saat mertuanya terus menekan untuk hamil, untuk bertobat, seolah ia adalah pendosa dan pembawa kesesatan. Hubungan Maryam dan suaminya tercerai berai.

Setelah bertahun-tahun, romansa Maryam kembali bersemi dengan Umar. Lelaki seiman yang dijodohkan orang tuanya ketika ia kembali ke kampung halaman. Dan kali itu, hidup Maryam kembali diuji oleh manusia-manusia yang merasa benar di sekitarnya. Sekelompok Ahmadi diusir, tak dimanusiakan meski mereka sesama manusia. Termasuk bapak ibu Maryam.

Setiap hari Maryam dan Umar memberi bantuan sembako sembari meminta keadilan pada pemerintah. Atas hak tempat tinggalnya, kampung halamannya, atas kebebasan memilih keyakinan, juga atas apa yang dianutnya. Maryam hanya ingin sebuah keadilan untuk kedamaian hidup yang tak pernah diberi pemerintah serta orang-orang tak berhati lainnya. Dan sampai kapan pun, Maryam tetap akan memperjuangkan hak-hak itu.

Review Novel Maryam Secara Pribadi

“Maryam” adalah karya yang mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori fiksi pada tahun 2012. Bagi saya, hal itu layak diberi atas pesan dan piawainya penulis-Okky Madasari-sebab berhasil menyentil sisi kehidupan yang kerap digembar-gemborkan. Tolerasi. Tentuny juga atas keberaniannya mengusung hal yang cukup sensitif.

Tokoh yang digambarkan kerap mengalami “rasa tersinggung dan sakit hati yang halus.” Membuat saya menyadari bahwa negeri ini hampir selalu berlaku kejam pada kaum minoritas. Memandang sebelah mata seolah tak pantas dihargai dan hidup di dunia. Menurut saya novel ini cukup menggambarkan fokus kurangnya toleransi pada kaum minoritas meski tak lengkap dijelaskan apa itu Ahmadiyah.

Akhir Kata

Pada sampul buku, jelas dilambangkan penulis bahwa yang menjadi konteks utama adalah sebuah keadilan. Pada awal membaca, hampir-hampir saya tak selera melanjutkan. Saya pikir isinya tak semenarik sampulnya.

Namun, pikiran saya terpatahkan setelah saya terus membaca halaman-halaman selanjutnya. Bahasa ringan yang digunakan cukup membuat saya merenung dan larut dalam kisah tokohnya.

Sebuah buku yang menarik dan bisa saya rekomendasikan untuk dibaca. Agar kita lebih mampu membuka mata, menyadari tata kehidupan, serta memperbaiki sisi kemanusiaan.

Salah satu kalimat yang berhasil membuat saya terkesan adalah, “Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan.”

Rate: 4/5

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *